BIOGRAFI MUHAMMAD YANAS DATUAK RAJO IMBANG DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN DI KENAGARIAN MANGGILANG (1943-1991)

PROPOSALPENELITIAN

BIOGRAFI MUHAMMAD YANAS DATUAK RAJO IMBANG

DAN PENGARUHNYA DALAM MEMBANGUN

 PENDIDIKAN DI KENAGARIAN MANGGILANG (1943-1991)

 

 

OLEH :

FEBRY VERNANDO

1010007933183

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

SEKOLAH TINGGI ILMU KEGURUAN DAN PENDIDIKAN

(STKIP ABDI PENDIDIKAN)

PAYAKUMBUH

2014


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. ii

BAB  I.    PENDAHULUAN………………………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………….. 1
  2. Batasan Dan Rumusan Masalah……………………………………….. 2
  3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian………………………………………… 2
  4. Tinjauan Kepustakaan……………………………………………………… 3
  5. Kerangka Analisis ………………………………………………………….. 3
  6. Metode Penelitian Dan Bahan Sumber ……………………………… 4
  7. Sistematika Penulisan


 

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Setidaknya ada tiga kategori pejuang, yaitu pejuang kemerdekaan, pejuang pergerakan kemerdekaan dan pejuang pendidikan. Namun sangat disayangkan, ketika sudah banyak tulisan dalam bentuk buku atau yang hanya sekedar dimuat di media tentang para pejuang kemerdekaan dan pejuang pergerakan kemerdekaan, tulisan tentang pejuang pendidikan tidak demikian adanya. Padahal mereka sama-sama pejuang yang memiliki jasa pada negara dan bangsa. Kemerdekaan tanpa diisi dengan pendidikan tidak akan ada artinya. Apalagi pendidikan pra-kemerdekaan, berbeda sekali dengan sekarang. khususnya di Minangkabau, pada masa sebelum tahun 1900 pendidikan di Minangkabau dinamai dengan sistem lama,yaitunya dilakukan dengan pengajian Al Quran sebagai proses pendidikan.

Adapun sistem baru dimulai tahun 1900-1908, setelah itu lahir Madrasah-madrasah yang menggunakan sistem baru (klasikal) tahun 1909-1930. Pada tahun 1940 baru berdrilah sekolah pemerintah pertama yang dinamai dengan Sekolah Rakyat (SR),begitu juga di Manggilang yang saat itu SR hanya sampai kelas tiga.

Pejuang pendidikan juga pantas mendapatkan apresiasi dan penghargaan,  meski hanya dalam bentuk pengenangan.[1] Muhammad yanas yang memangku gelar adat Datuak Rajo Imbang adalah salah seorang pejuang pendidikan dimaksud. Dia adalah Guru periode 1955-1991, belum pernah ada yang membuat tulisan tentang Dia dan perjuangannya dalam membangun pendidikan dikenagarian Manggilang.

Perjalanan hidup M. Yanas merupakan hal yang menarik untuk diungkapkan. M. Yanas seorang lulusan SGB yang saat itu merupakan tempat pelatihan guru di kota Padang. Sekolah ini mendidik para calaon guru dalam waktu 5 bulan[2]. Meski hanya bermodalkan pendidikan yang seadanya tersebut, namun M.Yanas dipercaya oleh masyarakat dan mampu mengemban tugasnya sebagai seorang guru, seperti halnya pertama kali dia diangkat menjadi seorang tenaga pendidik di sebuah sekolah dasar di desa Alang laweh kenagarian Halaban tahun 1955, selain beliau mendidik dan mengajar anak-anak disana, beliau juga aktif dan sering berpartisipasi menyumbangkan tenaganya untuk desa Alang laweh tersebut.[3]

M. Yanas lahir tanggal 09 Maret 1933 di Kenagarian Manggilang, ayahnya yang bekerja sebagai seorang petani bernama M. Yunus dan ibunya Ma’ni yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Semasa kecilnya M. Yanas tidak pernah bercita-cita menjadi seorang guru, karna kehendak ayahnya yang melihat pendidikan di Kenagarian Manggilang Semasa itu begitu minim, maka ayahnya ingin M. Yanas menjadi seorang guru yang bisa dan mampu meningkatkan minat  masyarakat terhadap pendidikan saat itu. Pendidikan M. Yanas Berawal dari BPPR (Balai Pengajaran Pendidikan Rakyat) di Padang japang tahun 1940 yang kebetulan saat itu kakaknya Nurhayati juga bersekolah disana. Tahun 1942 M. Yanas pindah sekolah ke Skakel Muhammadiyah Payakumbuh karena mengikuti kakaknya yang selalu menjaga dan merawatnya telah menamatkan sekolahnya di BPPR dan melanjutkan sekolahnya ke Payakumbuh. Di Skakel Muhammadiyah tersebut beliau hanya 1 tahun  sempat bersekolah disana karna gangguan ekonomi keluarga M. Yanas yang saat itu menurun, dan setelah itu M. Yanas memutuskan untuk kembali ke Manggilang untuk membantu ayahnya bekerja. Tiga bulan M. Yanas di Manggilang, beliau melihat begitu minimnya pendidikan di Manggilang semasa itu, dan beliau berinisiatif untuk mendirikan sebuah Organisasi yang bertujuan untuk menuntun masyarakat dalam dunia pendidikan. Dengan empat orang temannya (Musa, M. Natsir, Jayus,  dan Ismar) beliau mendirikan organisasi tersebut dan diberinya nama IPPM (Ikatan Pemuda Pelajar Manggilang) tahun 1943.

Setelah M. Yanas dan kawan-kawannya sukses dengan organisasinya tersebut, beliau kembali melanjutkan sekolahnya ke Government sebuah sekolah dibawah naungan pemerintah hindia belanda[4] di kenagarian Pangkalan yang berjarak 6 Km dari rumahnya. Satu tahun M. Yanas sekolah disana, beliau kembali berhenti sekolah karna dipanggil oleh wali nagari manggilang yang saat itu diemban oleh Muhammad ali untuk mengurus dan meresmikan organisasi yang telah beliau bangun dengan teman-temannya tersebut (IKPPM). Tahun 1951 barulah M. Yanas melanjutkan sekolahnya kembali di Sekolah Rakyat (SR) di kenagarian Manggilang yang sebelumnya sekolah tersebut hanya sampai kelas tiga, karna telah tersedianya kelas 4 sampai kelas 6, maka  M. Yanas hanya melanjutkan sekolahnya di kelas 6 saja, dan 6 dari temannya yang duduk dibangku kelas 6 yang mengikuti ujian kelulusan di kota Payakumbuh, hanya M. Yanas yang lulus murni dari sekolah rakyat tersebut.

Seperti keinginan ayah M. Yanas sebelumnya yang menginginkan anaknya  menjadi seorang guru, maka setelah M. Yanas lulus dari Sekolah Rakyat, beliau langsung meminta M. Yanas untuk melanjutkan pendidikannya ke SGB yang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang melatih para calon guru. Lima bulan berselang M. Yanas  menimba ilmu disana, tahun 1955 beliau langsung diangkat menjadi guru dan ditugaskan mengajar di sebuah sekolah dasar  di Desa Alang laweh kenegarian Halaban.

Setelah tiga tahun (1955-1958) M. Yanas mengajar di desa Alang laweh, tahun 1958 beliau berkeinginan untuk pindah mengajar dan mengabdi di kampung halamannya sendiri. Selain beliau bertujuan untuk mengabdi dan ingin meningkatkan mutu pendidikan dikampungngnya, beliau juga khawatir terhadap keluarganya yang ada dikampung. Karna saat itu kondisi pemerintahan Indonesia masih belum stabil pasca agresi Belanda, dan mempengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai ketimpangan dalam pembangunan, terutama daerah-daerah di luar pulau Jawa, masyarakat Sumatra-barat yang mengalami ketimpangan tersebut  tidak terima dan mendatangkan suatu pergolakan yang  disebut dengan  PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang juga mewabah sampai ke Kenagarian Manggilang. Lebih parahnya lagi tahun 1958 tersebut tentara pusat masuk ke Sumatra barat melalui pekanbaru dan melewati kenagarian Manggilang untuk sampai ke Kota Padang. Namun ternyata 75 % masyarakat Manggilang saat itu berpihak kepada pemerintah pusat, dan tidak ingin melakukan pemberontakan.

Setelah M. Yanas mengajukan surat permohonan pindah mengajar, beliau diizinkan untuk pindah pada tahun 1958, yang mana bersamaan dengan masuknya tentara pusat ke Sumatra-barat. Karena saat itu terjadi pergolakan, maka proses belajar mengajar jadi terganggu dan dihentikan. M. Yanas yang berprofesi sebagai guru, Karna tidak efektifnya proses belajar mengajar di Sumatra barat khususnya  Kenagarian manggilang saat itu, beliau memutuskan untuk bergabung dengan sebuah organisasi OPM (Organisasi Pertahanan Rakyat). Yang mana Organisasi ini bertujuan untuk mencari pemberontak yang tidak pro terhadap pemerintah pusat. Saat itu organisasi tersebut beranggotakan 30 orang pemuda dari Kenagarian Manggilang.

Karena pada pergolakan PRRI masyarakat Manggilang lebih berpihak kepada pemerintah pusat, maka hanya berselang satu bulan tentara pusat memasuki wilayah Sumatra-barat, keadaan di Manggilang mulai redah dan stabil kembali, meski masih ada sedikit tentara pusat yang berjaga. Karena keadaan sudah mulai stabil, M. yanas kembali di tugaskan untuk menjadi kepala sekolah di SD N 07  Kenagarian Manggilang. Karena saat itu masih terbatasnya tenaga pendidik, M. Yanas diberi mandat untuk mengkepalai sekaligus mengajar di dua sekolah dasar yang berbeda di Manggilang. Namun dengan gaji yang seadanya, beliau jalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas. karena menurut beliau, semakin banyak anak Indonesia yang menerima ilmu yang dia berikan, semakin banyak pula orang pintar yang tidak bisa di perbudak oleh penjajah, tutur beliau sambil tersenyum.

M. Yanas juga berperan dalam pembangunan sekolah menengah pertama (SMP) di Manggilang. Berkat usaha beliau, lahan tempat didirikan SMP tersebut disetujui oleh pemilik lahan yang sebelumnya tidak mau memberikan lahannya kepada pemerintah dengan alasan tidak sesuainya ganti rugi yang diberikan pemerintah kepada pemilik lahan tersebut. M. Yanas yang saat itu memangku gelar adat Datuak rajo imbang dari suku melayu tigo niniak ini, memberi masukan kepada Sidas pemilik lahan yang kebetulan juga merupakan kemenakan beliau. Seperti halnya pepatah di Minangkabau “anak dipangku kamanakan dibimbiang” (“anak dipangku kemenakan dibimbing”) sebegitu eratnya kaitan antara mamak dan kemenakan di Minangkabau, sehingga mengangkat seorang mamak (paman) atau penghulu adat menjadi sosok seseorang yang paling disegani oleh kemenakan, karena mereka merupakan tempat bertanya dan mengadu apabila kemenakan mendapatkan suatu masalah. Oleh karena itulah Sidas yang memiliki lahan tempat akan didirikannya SMP itu memberikan izin atas lahannya. Atas ucapan terima kasih pemerintah dan masyarakat kepadanya, beliau diangkat menjadi ketua komite SMP N 2 Pangkalan tersebut selama 10 tahun.

Selain M. Yanas berperan dalam pendirian SMP N 2 Kecamatan Pangkalan koto baru,  beliau juga merupakan orang peletak batu pertama atas didirikannya sebuah sekolah Taman kanak-kanak (TK) yang diberinya nama TK Permata Bunda.

Sebegitu banyak apresiasi yang telah diberikan beliau terhadap pendidikan dikenagarian manggilang, namun nyatanya tahun 1995 beliau masih sempat saja dituduh oleh segelintir orang menyelewengkan dana dari sebuah PT yang  mengolah sawit di kenegarian manggilang. Rumahnya yang berada dipinggiran jalan lintas sumbar-riau ini juga sempat menjadi korban atas amukan masa yang tidak jelas.

Satu tahun sebelum berakhirnya pergolakan PRRI di Sumatra-barat, tepatnya pada tahun 1960, M. Yanas yang berprofesi sebagai guru juga menyempatkan dirinya untuk bergabung dengan partai PNI. Dengan kesuksesannya di partai tersebut, beliau pernah di undang untuk mendatangi kongres PNI di Solo pada tahun 1960.

  1. Batasan Dan Rumusan Masalah

Berdasar deskripsi singkat pada latar belakang yang telah dipaparkan diatas, dengan mengacu pada judul penelitian ini, maka yang menjadi permasalahan pokok adalah Biografi Muhammad Yanas Dt Rajo Imbang Dan Peranannya Sebagai Pelopor Pendidikan Di Kenagarian Manggilang (1943-1991) . Permasalahan akan lebih terspesifikasi dalam sub masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana riwayat hidup M. Yanas dan masa pendidikannya ?
  2. Bagaimana M. Yanas melewati zamannya dalam momentum peristiwa yang terjadi, sehingga mengangkatnya menjadi seorang tokoh pelopor pendidikan di Kenagarian Manggilang ?
  3. Bagaimana kehidupan M. Yanas sebelum  ?

Batasan temporal pnelitian ini adalah meliputi tahun 1943-1991. Tahun 1943 dijadikan sebagai batasan awal, karena pada tahun ini awal timbulnya rasa kepedulian M. Yanas terhadap pendidikan di Kenagarian Manggilang. Sehingga beliau dan lima orang pemuda manggilang lainnya mendirikan sebuah organisasi IPPM (Ikatan Pemuda Pelajar Manggilang) yang bertujuan untuk menghimpun dan membangkitkan semangat masyarakat dalam dunia pendidikan. Sedangkan batasan akhir penelitian ini adalah tahun 1991, yang mana tahun ini merupakan akhir dari masa jabatan M. Yanas sebagai tenaga pendidik.

Secara spasial, pembahasan Penelitian ini dilakukan di kabupaten Lima puluh kota, tepatnya Kecamatan Pangkalan koto baru, Kenagarian Manggilang. Di Kenagarian Manggilang inilah M. Yanas hidup dan berkembang  menaruhkan keinginan untuk meningkatkan minat masyarakat dalam dunia pendidikan. Namun tidak menutup kemungkinan daerah-daerah lain yang ada disekitar Kabupaten Lima puluh kota menjadi tempat penelitian seperti Kenagarian Halaban yang merupakan tempat dimana pertama sekali M. Yanas mengajar.

  1. C.    Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan dari penulisan Proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mendeskripsikan riwayat M. Yanas dan peranannya sebagai pelpor pendidikan di Kenagarian Manggilang
  2. Untuk menganalisis upaya M. Yanas dalam perkembangan pendidikan di Kenagarian Manggilang (1943-1991)
  3. Menganalisis perjalanan hidup M. Yanas dan keluarga

Manfaat yang diperoleh dari penelitian dan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

  1. Dapat dijadikan sebagai acuan atau pedoman masa sekarang dan yang akan datang.
  2. Memperkaya penulis tentang sejarah lokal di Sumata Barat dan diharapkan dapat memberikan sumbangan dan pemahaman baru tentang masalah pendidkan bagi masyarakat dan peminat sejarah.
  1. D.    Tinjauan Pustaka

Tinjauan  pustaka dalam suatu kegiatan ataupun laporan penelitian dimaksudkan sebagai telaah pustaka yang berhubungan dengan masalah penelitian. penelusuran pustaka terutama dimaksudkan sebagai langkah awal untuk menyiapkan kerangka penelitian dan proposal guna memperoleh informasi penelitian yang sejenis, memperdalam kajian teoritis atau memperdalam kajian metodologi. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa tinjauan pustaka dapat berfungsi sebagai pendukung, penguat, maupun pembenaran terhadap data yang ditemukan. Sejumlah teori yang dipaparkan juga bermaanfaat sebagai alat pengurai untuk membedah setiap persoalan yang pada gilirannya ditemukan solusinya.

Mengenai riwayat M. Yanas dan pengruhnya sebagai pelopor pendidikan di Kenagarian Manggilang, belum banyak dikemukakan atau ditulis dalam bentuk buku oleh para peneliti sebelumnya “ sebuah buku tentang Sejarah Pendidikan Islam yang ditulis oleh Dra. Hj. Enung K Rukiati dan Dra. Fenti Hikmawati, 2008 hanya membahas mengenai pendidikan di Minangkabau tahun 1900.

  1. Kerangka Analisis

Kata biografi berasal dari kata bios dan grafi, bios dalam bahasa Yunani berarti hidup atau kehidupan, dan grafi atau graphien berarti menulis atau penulisan. Jadi esensinya biografi berarti penulisan riwayat hidup seseorang. Menurut Sutrisno Kutoyo, tiap penulisan tentang kehidupan seseorang adalah sebuah Biografi. Biografi adalah cerita yang benar-benar terjadi pada seseorang yang benar-benar hidup (Depdikbud, 1983:23).

Menurut kamus lengkap bahasa Indonesia, karangan Bambang Marhiyanto. Biografi diartikan sebagai riwayat hidup; buku yang menulis atau menggambarkan tentang riwayat hidup seseorang (Bambang Marhiyanto, Tanpa Tahun: 90).

Menurut Sartono Kartodirdjo, biografi  merupakan  unit penulisan sejarah yang sejak zaman klasik telah ditulis oleh historiografi Taetus, untuk menokohkan seorang pelaku, biografi menjadi alat utama. Biografi yang ditulis secara baik mampu membangkitkan inspirasi kepada pembaca, mamahami dan mendalami kepribadian seseorang dituntut pengetahuan latar belakang lingkungan  sosio-kultural dimana tokoh tersebut dibesarkan, bagaimana proses pendidikan formal dan informal yang dijalani, watak-watak yang ada disekitarnya (Sartono Kartodirdjo,1992:76)

  1. Metode Penelitian Dan Bahan Sumber
  2. 1.      Metode penelitian

Penulisan proposal penelitian ini disusun melalui berberapa tahap metode penelitian. Mulai dari mencari, menemukan, dan mengumpulkan data yang berhubungan dengan judul proposal “Biografi M. Yanas Dt Rajo Imbang Dan Peranannya Dalam Mengembangkan Pendidikan Di Kenagarian Manggilang” (Heuristik).  Menilai keaslian dan kredibilitas data dalam sumber yang bertujuan untuk menyeleksi data dan memperoleh fakta yang sebenarnya (Kritik Sumber). Tahap yang selanjutnya, data asli yang telah diseleksi kita peroleh, hubungkan antara data yang satu dan yang lainnya (Interpretasi) setelah itu jadikan tulisan sejarah tersebut sebagai kisah. Dengan cara merangkaikan fakta secara kronologis dan sistematis.

  1. Bahan Sumber

Adapun bahan sumber yang memperkuat penelitian ini seperti :

  • Arsip berupa SK kepegawain, piagam penghargaan dan beberapa arsip lain yang berhubungan dengan Biorafi M. Yanas Dt Rajo Imbang.
  • Buku sumber
  • Penjelasan nara sumber atau pelaku sejarah dalam beberapa kali wawancara.

Sesuai dengan metode historis di atas, maka langkah dan teknik pengumpulan data  dalam proses penelitian dan penulisan Skripsi ini adalah sebagai berikut:

1)        Wawancara
Wawancara merupakan cara untuk mendapatkan keterangan yang sebenar-benarnya dari informan tentang objek yang akan diteliti untuk mendapatkan data yang lebih mendalam. Hal ini dapat dilakukan berulang ulang sesuai dengan kepentingan agar lebih jelas masalah yang diteliti.

2)        Studi Kepustakaan

Mencari dan memilkah buku-buku yang mempunyai relevensi dengan masalah yang dibahas. Hal ini sangat penting untuk mendukung data-data yang diperoleh dan didapatkan di lapangan. Sumber data yang dipakai adalah terdiri dari sumber primer dan sumber skunder.

  • Sumber Data Primer

Merupakan sumber data yang dapat diperoleh secara langsung dari nara sumber atau para informan tentang objek yang diteliti.  Sumber primer ini tidak hanya terbatas pada metode wawancara dengan informan sebagai sumber lisan, akan tetapi dapat diperoleh dari beberapa buku yang merupakan sumber tertulis berupa hasil penelitian atau disertasi yang berkaitan langsung dengan objek yang diteliti.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara bersifat bebas (free interview). Yaitu dengan harapan suasana akan lebih santai dan non formal, sehingga informan dapat memberikan jawaban secara terbuka. Wawancara dilakukan secara langsung dengan  M.Yanas, anak-anaknya,  mantan murid M. Yanas ketika menjabat sebagai Guru, dan masyarakat manggilang lain yang seumuran dan sedikit banyak mengetahui tentang  M. Yanas.

  • Sumber Data Sekunder

Diperoleh dari studi kepustakaan yang digunakan sebagai  bahan perbandingan dan acuan bagi penulis, baik yang berupa buku-buku ataupun arsip-arsip yang relevan dengan objek penelitian ini.

  1. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan dalam mengikuti pembahasan skripsi ini, sistematika penulisannya dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Bab I Pendahuluan
    Dalam bab ini memuat tentang latar belakang penelitian, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan bahan sumber, dan sistematika penulisan.
  • BAB II                                                        

Gambaran Umum Riwayat Hidup M. Yanas dalam bab ini memuat masa kecil, lingkungan keluarga, pendidikan, masa remaja, dan sampai M. Yanas pension

 

  • BAB  III

Dalam bab ini memuat Perjuangan M. Yanas dalam Membangun pendidikan di Kenagarian Manggilang, keteladanan M. Yanas,  hasil-hasil usaha M. Yanas dalam membangun pendidikan dan pengaruhnya terhadap masyarakat manggilang.

  • BAB IV

Dalam bab ini memuat Peranan M. Yanas dalam mendidik anak-anaknya, M. Yanas sebagai ayah bagi anak-anaknya, dan cara M. Yanas menanamkan prinsip-prinsip hidup serta filosopi kehidupan pada anak dan murid-muridnya saat beliau menjadi guru. Dan pada intinya adalah peranan M. Yanas dalam mendidik dan membimbing.

  • BAB V Penutup
    Pada bab ini memuat kesimpulan dari seluruh pembahasan.

[1] Dra. Hj. Enung K Rukiati dan Dra. Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Pustaka Setia, 2006, hal 37.

[2] Wawancara dengan Bapak M. yanas di Manggilang tanggal 19/02/2014

[3] Wawancara dengan Bapak Amin di halaban tanggal 26/02/2014

Iklan